Memuat...

Selasa, 09 Agustus 2011

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURAHIM DAN BUKA PUASA BERSAMA DENGAN PARA PIMPINAN LEMBAGA NEGARA, DUBES NEGARA ISLAM, MENTERI KIB II, KEPALA LEMBAGA PEMERINTAH NON KEMENTERIAN, UNSUR PIMPINAN TNI & POLRI, PEJABAT ESELON I KEMENTERIAN DAN DIREKTUR BUMN, TANGGAL 3 AGUSTUS 2011, DI ISTANA NEGARA, JAKARTA

| | 0 comments
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA SILATURAHIM DAN BUKA PUASA BERSAMA DENGAN PARA
PIMPINAN LEMBAGA NEGARA, DUBES NEGARA ISLAM, MENTERI KIB II,
KEPALA LEMBAGA PEMERINTAH NON KEMENTERIAN, UNSUR PIMPINAN TNI
& POLRI, PEJABAT ESELON I KEMENTERIAN DAN DIREKTUR BUMN,
TANGGAL 3 AGUSTUS 2011, DI ISTANA NEGARA, JAKARTA

 
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
 
Yang saya hormati, saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Herawati Boediono,
Yang saya hormati, para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara,
Yang mulia, para Duta Besar Negara-negara sahabat,
Yang saya hormati, Pimpinan dan para anggota Dewan Pertimbangan Presiden, para Menteri dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu, Pimpinan dan Anggota Komite Ekonomi Nasional dan Komite Inovasi Nasional, Panglima TNI, KAPOLRI, dan para Pimpinan teras jajaran TNI dan POLRI, para pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian, para Pimpinan Badan-Badan Usaha Milik Negara,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
 
Marilah pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt atas rahmat dan rida-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah, karya, tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur  kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena dapat kembali menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan ini. Salawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan para pengikut Rasulullah, insya Allah, termasuk kita semua hingga akhir zaman.
 
Hadirin dan hadirat yang saya hormati,
 
Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kesediaan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, untuk hadir di Istana Negara ini, memenuhi undangan saya, untuk bersama-sama bersalat Magrib berjama'ah, berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan silaturahim diantara kita untuk meningkatkan tali persaudaraan kita semua. Dan semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
 

Sebagaimana biasanya, setiap acara buka puasa bersama diselenggarakan di Istana Negara ini, kami berbagi tugas. Acara utama menjelang salat Magrib nanti adalah hikmah Ramadan, yang akan disampaikan oleh penceramah, dan untuk kali ini akan disampaikan oleh saudara Prof. Dr.Nazaruddin Umar. Sedangkan tugas saya sebagai shohibul bait adalah sebagaimana biasanya, untuk menyampaikan semacam kontemplasi singkat, renungan singkat. Kalau ada istilah kultum; kuliah tujuh menit, barangkali yang saya sampaikan ini kontum; kontemplasi tujuh menit, atau rentum; renungan tujuh menit. Tentu yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang kita jalankan secara bersama.
 
Saya mengangkat satu tema dalam renungan kecil ini saya haturkan kehadapan Bapak, Ibu, Saudara sekalian yaitu untuk menjawab satu pertanyaan penting yang bunyinya sebagai berikut: "Masyarakat Indonesia seperti apa yang sesungguhnya hendak kita bangun dan kita wujudkan?" Topik ini barangkali kurang menjadi perhatian kita semua karena dianggap kalau kehidupan masyarakat, ia akan mengalir begitu saja. Barangkali kalah populer jika dibandingkan kita harus berbicara soal politik, soal ekonomi, soal keamanan, dan sebagainya. Oleh karena itu patut pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk melihat kembali, sebenarnya what kind of society yang hendak kita wujudkan. Saya kira, hadirin sekalian bersepakat dengan saya, yang kita tuju dan hendak kita wujudkan adalah sebuah masyarakat yang baik, the good society.
 
Banyak definisi, banyak penglihatan, banyak perspektif yang berkaitan dengan seperti apa masyarakat yang baik itu. Saya mengedepankan lima ciri dari masyarakat yang baik.
Pertama adalah masyarakat yang berkeadaban, memiliki Civility, Civilized Society. Tentu masyarakat demikian ditandai dengan perilaku masyarakatnya yang baik, penuh dengan etika, moralitas, budi pekerti, dan tata krama.
Yang kedua masyarakat yang berpengetahuan, knowledgeable society, kita setuju. Tanpa itu bangsa kita tidak akan maju.
Yang ketiga yang tidak kalah pentingnya bagi sebuah bangsa yang majemuk adalah masyarakat yang rukun, yang harmonis, dan yang toleran.
Yang keempat adalah masyarakat terbuka, open society, yang  bebas mengekspresikan pikiran-pikirannya. Ini ciri-ciri negara modern.
Kemudian yang kelima atau yang terakhir yang saya kedepankan kehadapan hadirin sekalian adalah, dan ini elemen penting pula dari sebuah masyarakat yang baik yaitu masyarakat yang tertib serta patuh pada norma dan pranata.
 
Sederhana, seperti itu, tetapi tentu untuk mewujudkannya sesuatu yang harus dengan gigih diupayakan oleh setiap bangsa termasuk bangsa kita. Tantangan yang kita hadapi, hadirin sekalian, menuju masyarakat seperti itu boleh kita lihat dari apa yang terjadi di tingkat dunia sekarang ini, maupun di tingkat negeri kita. Kita tahu negeri kita sekarang sedang menjalankan reformasi, demokratisasi, dan sesungguhnya juga transformasi, perubahan besar, sebuah proses panjang untuk menuju masyarakat yang maju dan sejahtera.
 
Di tingkat global kita menyaksikan globalisasi. Dan arus kehidupan yang mengedepankan nilai-nilai universal. Paduan dari dua kegiatan besar yang tengah berlangsung ini tidak kita sadari tapi menjadi fenomena dan realitas. Yang lebih mengemuka dari lima ciri tadi adalah terbangunnya, tumbuhnya masyarakat terbuka yang setiap warga bisa mengekspresikan kebebasan dan hak-haknya. Dan ini diperlukan memang karena ini adalah bagian penting dari sebuah negara demokrasi. Negara yang belum menjalankan nilai dan praktek demokrasi, ini adalah sesuatu yang ilusif. Tetapi, alhamdulillah, kita telah masuk dalam wilayah ini.
 
Yang kedua yang juga hadir dewasa ini, apalagi di sebuah negara yang sedang tumbuh, emerging countries, adalah masyarakat berpengetahuan yang makin terbentuk dengan akalnya, dengan kemewahan informasinya yang menghadirkan kreatifitas dan inovasi. Ini juga sangat dipentingkan bagi perjalanan bangsa menuju negara yang maju. Dari dua hal ini, hadirin, hadirat yang saya muliakan, saya berpendapat bahwa dua ciri yang menonjol tadi memang kita perlukan, dan harus terus kita jaga dan pelihara. Tetapi jangan lupa, tiga ciri yang lain janganlah ditinggalkan, janganlah dilupakan, janganlah tidak dijadikan agenda di dalam pembangunan di negeri ini. Saya ulangi yaitu masyarakat yang  berkeadaban, masyarakat yang rukun, harmonis dan toleran, dan masyarakat yang tetap tertib dan patuh pada pranata, apakah itu pranata sosial maupun pranata hukum. Nah, kalau tidak, kalau hanya dua ciri yang sangat kuat, sementara tiga ciri lainnya lemah, maka yang terjadi adalah sebuah masyarakat yang pincang, pincang. Ibarat gedung yang berpilar lima, tonggak yang kokoh, kalau yang kokoh hanya dua, yang tiga keropos, maka sebetulnya gedung itu juga tinggal menunggu kapan runtuhnya. Kita perlukan lima-limanya harus kokoh dan kuat. Kalau yang menonjol hanya dua yang tadi, yang tiga terabaikan, masyarakat kita tidak akan teduh, kehidupan tidak akan tenteram, karena ada yang hilang, ada yang missing, ada yang tidak ada. Kemudian, juga akan menjauh dari nilai dan norma agama serta nilai-nilai kebangsaan. Indonesia tumbuh menjadi negara yang religius, negara yang modern, tapi juga tidak meninggalkan jati diri dan nilai-nilai kebangsaannya.
 
Itulah renungan kecil yang saya sampaikan pada kesempatan yang mulia ini, semoga menggugah kesadaran kita semua sambil memohon berkah dan rida Allah Swt di bulan suci Ramadan ini, semoga kita semua terus diberikan kekuatan untuk membangun negeri ini seraya membangun masyarakat yang baik, sebagaimana yang saya sampaikan tadi, the good society, masyarakat yang baik yang akan membawa keteduhan dan ketenteraman bagi kehidupan bangsa Indonesia.
 
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, kontemplasi tujuh menit, saya kira tepat tujuh menit, dan selebihnya mari bersama-sama kita simak apa yang akan disampaikan nanti oleh penceramah kita tentang hikmah Ramdhan yang sudah lama kita tunggu untuk datang kembali dan kita syukuri kita telah berada pada bulan suci Ramadan ini. Terima kasih.
 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
 
Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan
Kementerian Sekretariat Negara RI

0 comments:

Poskan Komentar

Terima kasih telah membaca informasi yang kami sampaikan, semoga bermanfaat. Tidak dilarang untuk mengutip/menyebarluaskan/ copy paste informasi ini.

 
Twitter Facebook