Memuat...

Rabu, 26 September 2012

Menggugat Nabi Adam Dilahirkan

| | 0 comments
Pernahkah membaca buku Ternyata Adam Dilahirkan  ?  Buku karangan Agus Mustofa ini memberikan pandangan baru tentang asal-usul Adam.  Adam yang dimaksud adalah Nabi Adam, suami dari Hawa, bukan teman atau tetangga kita yang bernama Adam. Melawan mainstream dengan mengemukakan bahwa Adam bukan manusia pertama yang ada di bumi. Adam juga tidak diciptakan langsung dari tanah, melainkan lewat proses kelahiran seperti halnya kita. Waw!
Pendapat tersebut boleh dikata tidak asal njeplak karena berdasarkan dalil yang selalu benar, dalil yang tak pernah salah. Mengapa? Karena dalil-dalil itu berupa ayat Al Quran. Dalilnya berupa firman Tuhan. Allah yang mengatakan ayat-ayat itu. Mungkinkah Allah salah?
Namun, menurut kami, pengarang gegabah dalam mengambil kesimpulan. Jujur saja, kami akui kami tidak pandai dalam hukum agama. Kami hanyalah orang awam dan orang awam seperti kami ini dalam masalah agama selalu berusaha untuk bertanya kepada ulama jika ada hal yang belum kami pahami. Sebagai orang awam kami tidak mengerti ilmu tafsir. Kami tidak memahami dengan jelas bagaimana menafsirkan ayat Al Qur’an. Oleh karena itulah, dalam menafsirkan atau menyimpulkan makna yang terkandung dalam ayat Al Qur’an, kami mengikuti metode para ulama.
Ulama menggunakan metode yang dinamakan istidlal untuk menarik kesimpulan dari dalil/ayat, baik itu Al Qur/an maupun hadits, di mana keduanya adalah sumber hukum utama Islam.
Dalam buku tersebut, ketika dalil berupa ayat Al-Quran dikemukakan, kita sama sekali tidak dikenalkan dengan tafsir dari ulama mufassirin yang muktabar.
Ayat-ayat Al-Quran yang dikemukakan tiba-tiba ditarik kesimpulannya begitu saja, tanpa pernah tengok kanan kiri lagi. Ibarat orang menyeberang jalan, dengan sangat yakinnya pengarang buku itu ngeloyor ke tengah jalan.
Padahal biasanya para ulama setiap kali melakukan istidlal, selalu menampilkan pendapat para ahli tafsir dan para ahli ilmu lainnya, sebelum bicara tentang pendapat dirinya sendiri. Apalagi pendapat yang dikemukakan termasuk “kelas berat”.
Selain itu, ternyata, tidak ada hadits Nabi  Muhammad shallallahu alayhi wassalam yang dicantumkan sebagai dalil. Nyaris tidak ada satu pun hadits shahih yang dijadikan dalil. Entah apa motivasi pengarang yang sebenarnya. tapi yang jelas keterangan detail, tegas, shahih dan eksplisit tentang Nabi Adam sebagai manusia pertama ada di dalam hadits-hadits nabawi. Di antaranya
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah." (HR Bukhari)
Sangat mengherankan bila ada sebuah buku tentang Islam, terlebih terkait dengan tema aqidah yang berat atau sangat penting ini, tetapi sama sekali tidak mencantumkan hadits nabawi.
Apakah pengarangnya memang menghindari penggunaan hadits nabawi? Entah, tetapi yang jelas, hadits nabawi adalah salah satu sumber rujukan ajaran Islam yang utama. Meninggalkan keterangan hadits nabi tentu bukan tindakan yang dibenarkan.
Ataukah memang pengarang benar-benar yakin atas pendapatnya bahwa ulama selama ini tidak kaffah/komprehensif dalam menafsirkan ayat Al Qur’an? Bukankah selama ini ulama terlebih dahulu mencari referensi/rujukan dari ulama sebelumnya atau ulama yang diyakini lebih memahami?
Tindakan gegabah lainnya adalah menafsirkan Ali Imran ayat 59. Sangat jelas bahwa pengarang lebih mengedepankan ilmu pengetahuan, juga mengedepankan logikanya. Pengarang menafsirkan secara ra’yi.
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran: 59).
Menurut pengarang, bukan Nabi Isa yang kasusnya mirip Nabi Adam, tetapi justru Nabi Adam yang harus ikut keadaan Nabi Isa, yaitu punya ibu dan dilahirkan oleh seorang ibu. Dan kata kun fayakun bukanlah “jadilah” yang langsung jadi, tetapi melalui proses.
Kami mencoba ikuti logika pengarang. Mana yang benar: anak mirip orang tua ataukah ayah yang setampan anaknya?
Menjawab pertanyaan tersebut, seyogyanya pengarang akan membenarkan bahwa ayah itu setampan anaknya. Maka, bisa dimaklumi kalau kemudian pengarang (harusnya) membenarkan kenakalan ayah adalah dari kenakalan anaknya. Ayah dulunya nakal adalah karena mengikuti kenakalan anaknya.
Kalau kita belajar tentang ilmu tafsir, meski tidak menguasai sepenuhnya, tapi seharusnya kita tahu bahwa ayat ini turun untuk membantah keyakinan orang nasrani. Allah mematahkan argumentasi mereka dengan menggunakan qiyas, bahwa penciptaan Nabi Isa yang lahir tanpa ayah adalah suatu hal yang bukan mustahil. Sebab Nabi Adam bahkan lahir tanpa ayah dan ibu. Ada kemiripan antara keduanya, meski bukan berarti sama persis.
Padahal jelas-jelas Allah mengatakan bahwa kasus kelahiran Nabi Isa itu ada kemiripan dengan kasus Nabi Adam, bukan kasus Nabi Adam seperti kasus Nabi Isa. Dan titik kemiripannya adalah bahwa nabi Adam tercipta tanpa ayah.
Logika yang dikembangkan memang aneh dan janggal. Buku itu sama sekali tidak dilengkapi logika yang dibangun pengarangnya sendiri. Seharusnya dia menuliskan juga tentang siapakah ibu Nabi Adam serta hal-hal yang dialami pasca kelahirannya. Dan tidak ada keterangan bahwa setelah itu, orang-orang menuduh ibu Nabi Adam itu sebagai wanita pelacur. Juga tidak dijelaskan bahwa saat masih bayi, Nabi Adam bisa bicara seperti orang dewasa.
Logika yang dikembangkannya justru dipungkirinya sendiri. Kalau benar Nabi Adam mengalami proses seperti Nabi Isa, maka seharusnya ibunya Nabi Adam (kalau memang ada) sebelumnya harus didatangi Jibril yang mengabarkan kehamilannya, lalu dia hamil dan merintih kesakitan saat melahirkan, kemudian diperintahan untuk memakan buah kurma, lalu kembali ke masyarakat dan dihina sebagai wanita pelacur, kemudian Adam pun seharusnya bisa bicara meski masih bayi. Karena Maryam ibu Nabi Isa mengalami semua proses itu.
Tentang kun fayakun, dikatakan sebagai proses. Tapi berapa lama proses itu tidak dijelaskan. Kalau demikian, apa beda Allah dan makhluknya yang juga butuh proses?  
Jika kita lihat sosok pengarangnya, Agus Mustofa ini adalah pegiat tarekat/tasawuf. Merupakan anak dari guru tasawuf juga. Tarekat/tasawuf ini kalau kita kaji, ternyata tak jauh beda dengan paganisme. Dalam bukunya, pengarang mengatakan bahwa Islam itu mencerahkan dan mengajak pembaca untuk bersikap rasional, meninggalkan paganisme. Pengarang juga menghimbau pembaca untuk kaffah atau menyeluruh dalam ber-Islam, tetapi mengapa tidak mencantumkan pendapat para ulama, mengapa tidak mengikutsertakan hadits shahih?
Kemudian, kalau lebih cermat, pemikiran Adam dilahirkan adalah sama dengan teori evolusi manusia / teori darwin. Disebutkan bahwa manusia ada yang golongan basyar dan ada juga yang insan. Insan merupakan penyempurnaan dari basyar yang telah ada sebelumnya. Adam adalah insan, bukan basyar. Basyar diartikan sebagai manusia purba dan penyebutan insan adalah untuk manusia modern. Selain itu, di akhir tiap bab, terdapat gambar berikut yang silahkan Anda perkirakan sendiri maksudnya.
Tetapi karena yang "dikejar" memang menguatkan keyakinan pengarang bahwa Nabi Adam itu tidak diciptakan langsung oleh Allah dari tanah dan bukan manusia pertama, maka pengarang tidak sadar bahwa logika itu sendiri sebenarnya punya konsekuensi yang mungkin tidak disetujuinya.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima kasih telah membaca informasi yang kami sampaikan, semoga bermanfaat. Tidak dilarang untuk mengutip/menyebarluaskan/ copy paste informasi ini.

 
Twitter Facebook