Memuat...

Minggu, 06 Januari 2013

Siapa Itu Ahlul Bait?

| | 0 comments

Salah satu perbedaan pandangan antara Syi’ah dan Sunni adalah tentang ahlul bait. Lebih spesifik lagi, yang menjadi perdebatan, adalah jika dikaitkan dengan QS Al Ahzab: 33,
“dan hendaklah kamu[1] tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[2] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait[3] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[4]
Ahlul bait (البيت أهل) secara bahasa berarti penghuni rumah atau keluarga. Secara istilah, yang dimaksud ahlul bait adalah keluarga Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam.[5]

Pandangan Syi'ah tentang Ahlul Bait

Siapa itu Ahlul Bait menurut Syi'ah 

Menurut syi’ah, ahlul bait adalah Fatimah binti Muhammad (putri Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam), Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Syi’ah berpegangan pada hadits:
Aisyah menyatakan bahwa pada suatu pagi, Rasulullah keluar dengan
mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Lalu, datanglah Hasan bin Ali, maka Rasulullah menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Husain lalu beliau masuk bersamanya. Datang juga Fathimah, kemudian beliau menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Ali, maka beliau menyuruhnya masuk, lalu beliau membaca ayat 33 surah al-Ahzab, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." [6]
Diriwayatkan oleh Ummu Salamah isteri Nabi s.a.w. Rasulallah s.a.w. berada di rumahnya sedang tidur dengan memakai kain selimut. 
Apabila Fatimah anakanda Nabi s.a.w. membawakan untuk ayahandanya semangkuk Khazirah. Rasulallah s.a.w. bersabda kepada anakandanya Fatimah, "Panggillah suamimu dan kedua-adua anakmu Hasan dan Husain". Fatimahpun memanggil mereka semua. 
Ketika mereka sedang duduk dan makan bersama Rasulallah s.a.w. maka turunlah ayat yang tersebut di atas. Ketika itu Rasulallah memegang tepi kain selimut yang ada bersama Nabi s.a.w. dan menutupi mereka semua . Sambil menadahkan tangan, baginda berdo'a, "Ya Allah mereka ini adalah Ahlul Baiytku dan keturunanku maka hapuskanlah kekotoran daripada mereka dan sucikanlah mereka itu dengan sesuci-sucinya". 
Nabi s.a.w.mengulangi do'a ini sebanyak tiga kali. Berkata Ummu Salamah, "Aku masukkan kepalaku dalam penutup itu, Nabi s.a.w. menarik selimut itu sambil bersabda, "Sesungguhnya kamu berada dalam kebaikan", diulangi sehingga dua kali. (H.S.riwayat Thabrani dari Ummu Salamah).[7]

Apakah menurut syi'ah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait?

Syiah memandang istri-istri Nabi bukanlah ahlul bait, mereka menyandarkan pada hadits
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya] [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542]

Dasar syi’ah menganggap istri-istri Nabi bukanlah ahlul bait adalah dari perkataan Ummu Salamah “sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat” . jawaban tersebut dinilai menyiratkan bahwa  Ummu Salamah (istri/istri-istri Nabi) tidak termasuk ahlul bait.[8]

Pandangan Sunni tentang Ahlul Bait

Istri-istri Nabi Adalah Ahlul Bait

Sedangkan sunni, memandang ahlul bait sesuai apa yang ada pada Al Ahzab: 33. Ayat tersebut tidak dapat dipisahkan dengan ayat sebelumnya (Al Ahzab: 32),yaitu
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[9] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[10], ucapkanlah perkataan yang baik.” [11]
Sangat jelas bahwa istri-istri Nabi juga adalah ahlul bait.
Tentang ayat tersebut, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan,
قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.
“Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)
Ikrimah rahimahullah (salah satu ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,
من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم
“Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411)

Keturunan Ali adalah Ahlul Bait

Kemudian, dalam kitab Syarh Ta’limul Muta’allim[12] karya Syaikh Ibrahim bin Ismail salah seorang ulama Madzhab Syafi’i, ketika beliau menjelaskan lafadz shalawat:
والصلاة على محمد سيد العرب والعجم وعلى آله وأصحابه
Semoga shalawat tercurah kepada Muhammad, pemimpin masyarakat Arab dan non-Arab, beserta keluarganya dan para sahabatnya.

Beliau mengatakan,
وآله من جهة النسب أولاد علي وعباس وجعفر وعقيل وحارث بن عبد المطلب
“Keluarga Nabi dari sisi nasab adalah keturunan Ali, Abbas, Ja’far, Aqil (putra Abu Thalib), dan Haris bin Abdul Muthalib.” (Syarh Ta’limul Muta’allim, Hal. 3)[13]


[1] Maksudnya : istri-istri Rasul agar tetap di rumah, dan keluar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syarak. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
[2] Yang dimaksud dengan “Jahiliyah yang dahulu” ialah jahiliyah kekafiran yang terdapat sebelum zaman Nabi s.a.w. dan yang dimaksud dengan “Jahiliyah sekarang” ialah jahiliyah kemaksiatan yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[3] “Ahlul bait” di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.
[4] Teks terjemahan berikut footnotesnya disalin dari Al Qur’an Al Karim & Terjemahnya yang diterbitkan Toha Putra Semarang.
[6] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Ringkasan Shahih Muslim, Gema Insani Press, Jakarta, 2005.
[7] Syed Hasan Alatas, Mengenal Ahlul Bayt Rasulallah SAW, http://www.al-shia.org/html/id/
[9] Yang dimaksud dengan “tunduk” di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bbertindak yang tidak baik terhadap mereka.
[10] Yang dimaksud dengan “dalam hati mereka ada penyakit” ialah : orang yang mempunya niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
[11] Teks terjemahan berikut footnotesnya disalin dari Al Qur’an Al Karim & Terjemahnya yang diterbitkan Toha Putra Semarang.
[12] Salah satu kitab yang dipelajari di pondok pesantren. Kitab ini juga menjadi pelajaran utama. Memuat etika tata cara belajar dan mengajar hingga seorang murid dan gurunya akan mendapatkan kemudahan dalam belajar dan mengajarnya serta diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Di dalam kitab ini ditekankan syarat pertama dalam mencari ilmu adalah niat, niat ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghidupkan agama, menghilangkan kebodohan, dan melestarikan Islam. Tidak mengharap kemuliaan dunia.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima kasih telah membaca informasi yang kami sampaikan, semoga bermanfaat. Tidak dilarang untuk mengutip/menyebarluaskan/ copy paste informasi ini.

 
Twitter Facebook