Kapan Nabi Muhammad Lahir


Salah satu tanda mencintai Rasulullah Muhammad shallallahu alayhi wasallam adalah mempelajari sirah nabawiyah/sejarah hidup beliau. Termasuk sirah nabawiyah adalah kelahiran beliau.
Tentang tanggal dan bulan kelahiran beliau, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang paling masyhur, beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahkan dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai kesepakatan ulama.
Ibnu Abdul Bar rahimahullah berpendapat bahwa Nabi shallallahu alayhi wasallam dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabi'ul Awal. Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat tanggal 10 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Ada pula yang berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq. Adapula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadan sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdul Bar dari Zubair bin Bakar. [Lihat As Sirah An Nabawiah, Ibnu Katsir, hal. 199-200]. 

Namun ada sebagian yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan di bulan Shafar, Rabi’ul Akhir, dan ada yang berpendapat beliau dilahirkan di bulan Muharram tanggal 10 (hari Asyura). Kemudian sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau lahir di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan di mana beliau mendapatkan wahyu pertama kali dan diangkat sebagai nabi. Pendapat ini bertujuan untuk menggenapkan hitungan 40 tahun usia beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika beliau diangkat sebagai nabi.
Sedangkan bila ditinjau dari ilmu falak/astronomi, ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti Ustadz Mahmud Basya Al Falaki, Ustadz Muhammad Sulaiman Al Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam ar Rahiqul Makhtum hlm. 62), dan Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad As Sulaim, beliau mengatakan,
“Dalam kitab-kitab sejarah dan sirah dikatakan bahwa Nabi shallallahu’alayhi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H).
Adapun untuk hari lahirnya jelas hari senin, berdasarkan hadits Muslim diriwayatkan dari Abu Qatadah, bahwa seorang badui berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapat engkau tentang puasa di hari senin?” beliau menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula diturunkan wahyu kepadaku.”
Tahun kelahiran Rasulullah juga disebut dengan Tahun Gajah. Mengapa dinamakan Tahun Gajah? Karena pada tahun tersebut, tepatnya 50 hari sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam, Kota Makkah diserbu Pasukan Gajah yang berniat menghancurkan Ka’bah. Mengapa?
Abrahah bin Ash Shabah Abu Yaksum, Raja Yaman, mendapat teguran dari Najasy raja besar dari Habsy yang juga menguasai Yaman. Teguran sekaligus ancaman dan sumpah Najasy akan menduduki Yaman dan menelungkupkan ubun-ubun Abrahah karena Abrahah membunuh Aryath untuk menjadi satu-satunya penguasa Yaman. Untuk mengatasi kemarahan Najasy, Abrahah mengirimkan utusan yang membawa hadiah dan sekantong tanah Yaman serta surat supaya Najasy menginjak-injak tanah Yaman dalam kantong itu agar Najasy terbebas dari sumpahnya. Kemudian Abrahah juga mengirimkan surat ke Najasy untuk menebus kesalahannya. Dalam suratnya ia mengatakan, “Aku akan bangunkan untukmu sebuah gereja di Yaman yang belum pernah dibuat bangunan sepertinya.”
Lalu ia membangun gereja di Shan’a, sebuah bangunan yang sangat tinggi dan dihiasi di semua sisinya. Bangsa Arab menyebutnya al qalis karena bangunannya yang tinggi. Sebab, orang-orang yang melihatnya akan mengangkat kepala sehingga qalansuwah (peci) yang dikenakannya hampir terjatuh dari kepalanya karena tingginya bangunan.
Melihat bangsa Arab berbondong-bondong menunaikan ibadah haji. Maka ia bertekad mengalihkan ibadah haji dari Ka’bah ke gereja tersebut. Hal ini memicu kemarahan bangsa Arab. Kaum Quraisy, sebagiannya datang ke gereja itu malam hari dan menghancurkan apa yang ada di dalamnya kemudian pulang. Ada juga bani Kinanah yang memasuki gereja tersebut dan melumuri temboknya dengan kotoran. Muqatil bin Sulaiman menyebutkan bahwa ada kaum Quraisy yang masuk ke gereja dan membakarnya. Pada hari itu panas benar-benar terik, sehingga gereja itu terbakar, runtuh dan rata dengan tanah.
Mengetahui itu, Abrahah murka dan segera berangkat menuju Makkah dengan jumlah pasukan 60.000 orang. Ia memilih untuk dirinya gajah yang paling besar, Mahmud nama gajah itu. Sementara pada pasukannya terdapat 9 ekor gajah. Ada juga yang berpendapat 8 ekor, ada pula yang mengatakan 12 ekor. Tujuannya, menghancurkan Ka’bah, dengan meletakkan rantai pada pilar-pilarnya dan ujung rantai lainnya diikatkan pada leher gajah, kemudian gajah itu digerakkan agar menjatuhkan/meruntuhkan Ka’bah.
Bangsa Arab pun bergerak mempertahankan Baitullah (Ka’bah) melawan Abrahah. Dzu Nafar salah seorang tokoh di Yaman kalah dan berhasil ditawan. Abrahah memintanya menjadi penunjuk jalan. Sampai di Khats’am, pasukan dihadang oleh Nufail bin Habib  selama 2 bulan tetapi akhirnya berhasil dikalahkan dan menjadi tawanan. Nufail menjadi penunjuk jalan hingga di Tha’if. Tidak ada perlawanan karena penduduk takut akan keselamatan rumah dan diri mereka, kemudian diangkatlah Abu Raghal menjadi pengganti Nufail memandu jalan hingga Makkah. Nufail kembali ke kaumnya: Quraisy.
Sampailah mereka di Al Mughammas, dekat Makkah. Bala tentara Abrahah merampas harta penduduk. Unta-unta sebanyak 200 ekor milik Abdul Muththalib kakek Rasulullah pun ikut dirampas.  
Abrahah mengutus Hanathah Al Himyari untuk memanggil para tokoh/pemuka Quraisy dan memberitahukan bahwa Abrahah tidak akan menyerang Quraisy kecuali Quraisy menghalanginya menghancurkan Ka’bah. Hanathah menemui Abdul Muththalib dan Abdul Muththalib mengatakan, “Demi Allah kami tidak akan memeranginya dan kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Ini adalah Baitullah yang suci, rumah kekasih-Nya, ibrahim. Kalau memang ia dilarang mendatanginya, maka yang demikian itu karena ia merupakan rumah sekaligus tempat suci-Nya. Demi Allah kami tidak mampuuntuk melarangnya.” Kemudian Hanathah mengajaknya menghadap Abrahah.
Abrahah turun dari singgasananya dan duduk di lantai bersama Abdul Muththalib. Abrahah bertanya melalui penerjemahnya, “Katakan, apa maksud kedatangannya?”
Abdul Muththalib berkata pada penerjemahnya itu, “Aku hanya ingin agar raja mengembalikan 200 ekor unta milikku.”
Abrahah berkata, “Kamu benar-benar membuatku terheran-heran saat aku melihatmu, tapi kemudian aku menjadi berang kepadamu saat kamu berbicara menuntut 200 ekor unta milikmu yang hilang, tetapi kamu biarkan rumah yang menjadi agamamu dan nenek moyangmu. Sesungguhnya aku datang untuk menghancurkannya, sedang engkau tidak menyinggung sama sekali dalam pembicaraanmu denganku.”
Abdul Muththalib berkata, “Sesungguhnya aku pemilik unta itu, sedangkan rumah (Baitullah) memiliki pemilik sendiri (Allah) yang akan selalu mempertahankannya.”
Abrahah berkata, “Dia tidak akan sanggup menghalangiku.”
Abdul Muththalib membantah, “Kamu tidak akan mampu menandinginya.”
Unta-unta Abdul Muththalib pun dikembalikan. Kemudian ia kembali kepada kaum Quraisy, lalu dia memerintahkan kepada mereka supaya keluar dari Makkah dan berlindung di puncak-puncak gunung, karena khawatir mereka akan merasakan amukan pasukan Abrahah.
Selanjutnya Abdul Muththalib berdiri dan memegang daun pintu Ka’bah. Bersama orang-orang Quraisy berdo’a meminta keselamatan dan Allah membinasakan Abrahah. Kemudian dengan memegang pintu Ka’bah Abdul Muththalib berkata,
“Tidak ada kebimbangan. Sesungguhnya seseorang telah mempertahankan rumahnya, karenanya pertahankanlah rumah-Mu. Kekuatan dan tipu daya mereka tidak akan pernah dapat mengalahkan tipu daya-Mu untuk selamanya.”
Lalu mereka pun pergi, menyerahkan Ka’bah kepada pemiliknya, Allah.
Kemudian esok harinya, Abrahah beserta pasukannya bersiap menyerbu Makkah menyerang Ka’bah, tetapi gajah-gajah itu duduk diam tak mau berjalan.  Mereka pun memukul-mukul gajah itu agar gajah mau berdiri tapi gajah enggan berdiri. Kemudian mereka memukul kepala gajah itu dengan kapak dan mereka memasukkan tongkat mereka yang berujung lengkung ke belalai gajah lalu mereka menariknya agar gajah itu mau berdiri, tetapi gajah itu menolak. Lalu mereka mengarahkannya kembali ke Yaman maka gajah itu berdiri dan berjalan cepat. Mereka juga mengarahkannya ke Syam dan ke timur, gajah pun mau berjalan. Namun, saat diarahkan lagi untuk ke Makkah, gajah itupun diam!
 Kemudian Allah mengirimkan pada mereka burung ababil dari arah laut. Kawanan burung itu masing-masing membawa 3 buah batu: 1 batu di paruh, 2 batu di kedua kakinya. Tidak seorang pun yang terkena batu itu dapat selamat.

Sumber:

Abu Ubadah Yusuf As Sidawi, 2009, Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html
Ammi Nur Baits, 2012, Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi?, http://www.konsultasisyariah.com/bernakah-12-rabiul-awal-hari-kelahiran-nabi/#axzz2NWI8Ozew
Anonim, 2013, Jawaban Bagi Orang yang Menganggap Bid’ah sebagai Perbuatan Baik  Seperti Merayakan Maulid Nabi, http://www.alsofwah.or.id/cetakkonsultasi.php?id=3525
Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad Dimasyqi, 2000, Tafsir Ibnu Kasir, Juz 30, cetakan pertama, (diterjemahkan oleh : Bahrun Abu Bakar), Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung.
Ibnu Katsir, Ringkasan Bidayah wa Nihayah, Pustaka Azzam, Jakarta.
Fadhl Ilahi, Tanda-tanda Cinta Kepada Rasulullah, (diterjemahkan oleh : Abdullah Haidir), Kantor Kerjasama Dakwah Bimbingan dan Penyuluhan Bagi Pendatang Al Sulay, Riyadh.
Shafiyyurrahman Mubarakfuri, 2005, Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, (diterjemahkan oleh : Abdullah Haidir), Kantor Dakwah Bimbingan dan Penyuluhan Bagi Pendatang Al Sulay, Riyadh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah membaca informasi yang kami sampaikan, semoga bermanfaat. Tidak dilarang untuk mengutip/menyebarluaskan/ copy paste informasi ini. Laskar Informasi juga sangat terbuka atas masukan/tanggapan/komentar.

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ !

Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah

BCA No. 8780 171 171
MANDIRI No. 123 00 99 00 8999
BNI SYARIAH No. 00 915 39 444
BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah